Thursday, December 20, 2012

Hanya Bayang Hitam

By
Hi, aku adalah Syiwa. Anak semester 14 di salah satu universitas negeri terkemuka d Makassar. Kemarin, aku bertemu teman lama. Bukan, mereka adalah sahabatku semasa SMA dulu. Setiap bulannya, kami memang biasa reunian. Enam orang di antara sahabat karib berkumpul dan berbagi cerita. Semua cerita kami torehkan dalam semalam. Tak tertulis, tak pula terekam tapi terpahat dalam hati kami masing-masing. Aku akan bercerita tentang kisah kami karena ceritanya bakal panjang aku membagi cerita ini dalam beberapa segmen.

Cerita pertama adalah tentang Vicky. Anak negeri kelahiran rantau. Begitulah kami menjulukinya. Hufgh…harus mulai dari mana nich ceritanya?. Binggung sob, soalnya ceritanya saja sudah cukup panjang dan mungkin membosankan buat sebagian orang bahkan aku yang menuliskan cerita ini. Okey, inilah sepenggal cerita tentangnya.
Vicky tampak lelah setelah semalaman berlayar di dunia maya. Menyusuri setiap lembah mencari sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu. Tangannya ia silangkan di bawah kepala sebagai alas baringnya, kakinya saling tindih dan matanya terpejam rapat. Sesekali, bola mata di balik kelopaknya tampak bergeser dari sisi satu ke sisi lainnya. Keningnya ia kernyitkan bak sedang berpikir. Diam dan mengabaikan segelas kopi panas yang menemani lamunnya.
“Kamu benar-benar bodoh Vick” ujarku memecah lamunannya
“Trus?” jawabnya acuh
“Hmm… Kamu pikir dengan melakukan ini dia akan senang?
“Setidaknya dia tidak tersakiti” balasnya santai
“Saat ini iya” sambil meneguk secangkir kopi yang ada di sampingnya.
“Maksudmu, kelak dia akan tersakiti oleh perlakuanku ini?” lalu bangkit dari baringnya
“Bukan hanya dia, kamu juga akan tersakiti dan menyesal bertindak seperti ini”.
“Cish…jangan ngawur kamu kalo ngomong” balasnya ketus dan kembali merebahkan badannya
 
*****

Vicky memang bukan tipe pemikir yang baik. Banyak tindakannya diambil berdasarkan pertimbangan rasa. Aku sebagai sahabatnya pun terkadang bingung dengan alur pikirannya. Kadang, ia terlalu memaksakan diri dan memberikan apa saja yang ia miliki sekalipun itu pasti akan merepotkannya kelak. Bahkan perasaannya rela ia korbankan hanya demi tuntutan-tuntutan yang semestinya tidak ia penuhi.
“Kamu seharusnya tidak melakukan hal-hal yang bisa menyiksamu” saranku

“Melihat orang lain senang itu bukan hal yang bisa menyiksaku Wa” balasnya

“Jadi kamu benar-benar berpikir dia akan senang mengetahui kamu terlauka?” tanyaku. Dia membeku dan matanya terpejam rapat. Hanya keningnya yang mengernyit mengisyaratkan sedang memikirkan kata-kataku.

“Hmm, saya ndak sanggup mengabaikannya Wa. Mungkin kamu benar dia akan sedih melihatku terluka tapi kesedihan itu akan sirna seiring hadirnya orang yang benar-benar ia sayangi”

“Masih berpikir kalo kamu adalah bayang hitam itu? Itulah kenapa aku menganggapmu orang paling bodoh yang pernah aku kenal”


10 comments: