Sunday, April 8, 2012

KALA SESAL BICARA

By
Kembali redup penglihatanku ketika mata lelah membelalak menatapi kesibukan jalan yang enggan berakhir, Semakin tajam pikiranku mengingat maka makin jauh jalanku dari tujuan utamaku. Aku memang sudah tua dalam hal ini, hampir dua tahun menggeluti hidup yang penuh keraguan dan kebingungan . Tantangan, yahh, tantangan yang pertama aku patahkan di jurusan Bahasa Inggris,
pertama kalinya aku meluncur membawa langkah yang baru kemarin aku pelajari, dengan terkatung-katung tapi, bukanlah masalah yang penting semangat dan keberanian untuk melangkah masih tetap membara.

Hari ini, hari sebelum setengah tahun menjelang satu tingkatan di bawahku, Egi, jurusan yang sama denganku,   berkacamata, rambut poni, dan pakaian sederhana yang membaluti kelok tubuhnya, rapi, sopan dan anggun. Seringkali membuat teman-temanku yang mata keranjang semberengeh dibuatnya. Muna kalo aku tidak mengatakan kami
“Wajar kalo dia mendapatkan pujian itu” support benakku membenarkan.

Egi adalah sosok yang cerdas, respect terhadap orang lain, tidak sombong, namun  tak semua orang tau dia punya kepribadian yang yang super baik. Sayangnya, ia tidak pernah selektif dalam berteman walaupun pada umumnya teman-temannya juga orang yang juga punya otak “Core 2 Duo”, tapi tak semua diantara mereka punya kepribadian yang sama seperti Egi.

“Berteman dengan mereka adalah rasa hormatku, rasa hormatku adalah ketidaksombonganku, karena kesombongan itu adalah wabah yang membunuh kita secara perlahan-lahan”. Cobaku mengingat sebait kalimat yang dia ucapkan di koridor antara jurusan Bahasa Inggris dan gedung Fakultas.

Perkenalan kami terbilang sangat singkat, perkenalan kami yang hangat dan tak terlupakan, walaupun hanya menyita beberapa menit, tapi kami sudah bisa sangat akrab.
“Ka’, ka’ Ukhi! Sapanya seraya menyadarkanku dari lamunan yang sudah malangit .
“Eh, Egi, da ap? Tanyaku berusaha menghilangkan perasaan kaget. Entah karena aku memikirkannya atau mungkin saja karena sapaanya yang mendadak dari belakangku.
“Ga, cuman mo nanya sesuatu aja!
“Tapi..”
“Tapi kenapa?”
“Jangan tersinggung ya??”
“Katakan saja langsung, jamin I ga bakalan tersinggung kecuali you ga mau cerita di depan para cecunguk ini” seraya menunjuk ke arah Andi, Toni, Dede dan Surya.
“Mmm, entar aja ya aku ngomong ma kakak, dosen Phonology keburu masuk tu”
“Ya,, udah, kalo gitu, tapi ketemuan di baruga aja ya?’ seraya terus menatapi kepergiannya yang hingga lenyap dibalik pohon beringin rindang itu.

Entah apa yang ada dalam benakku, apa yang buat aku terus memikirkannya. Perasaanku seakan berkata ada yang dia sembunyikan Egi, wajah tidak secerah biasanya, tapi… apa? “Kenapa juga dia mau cerita ma I, bukankah dia punya teman yang lebih baik dari I?” Beberapa menit berlalu, tapi aku masih penasaran. Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus ditemani oleh teman-temanku menemui Egi di baruga? “Ah,, ga perlu kale, biar I sendiri aja kesana” tawarku dalam hati sekaligus mamantapkan..

Waktu di Handphoneku menunjukkan pukul 14 seperempat lewat beberapa detik. Sudah sejam lebih aku belum juga beranjak dari tempat duduk di koridor itu, namun akhirnya, aku menyerah juga, biasalah masalah klasik, jadi harus diisi ulang biar lebih konsen, kan kalau kelaparan ga mungkin bisa konsen.

Selang beberapa menit kemudian, kuliah Egi bubar, satu persatu teman sekelasnya berhamburan dari mulut pintu ruangan kuliahnya. Evi, Ikha, Elzi, Novi, dan Anggel, satu persatu nama mereka aku sebutkan bak seorang guru yang sedang mengabsen  murid sekelas, tapi Egi belum juga muncul-muncul dari balik daun pintu itu.
“Bukankah dia ikut tadi?”

Tanpa sadar kakiku melangkah menuyusuri lorong di lantai dua gedung yang hanya bertingkat tiga itu. Tak seorangpun yang terlihat kecuali Egi yang tertunduk, rambutnya menutupi sebagian wajahnya, bahunya naik turun, tapi tak ada suara sedikitpun yang terdengar. Perlahan aku mendekatinya, duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi yang Ia tempati. Hening, tak satupun diantara kami yang bersuara, apa yang terjadi?? Tanyaku dalam benak diantara kebisuan kami berdua.
“Gi?” Bukaku dengan nada rendah
“Seharusnya aku percaya kata-kata kakak, seharusnya aku jauhi mereka”
“Maksud kamu apa sih Gi?’   
“Aku hamil ka’”  

Jantungku terasa berhenti berdetak, membisu, tak merespon, entah kalimat apa yang pantas aku ucapkan, hanya tiga kata, “andai aku bisa”, tapi bagaikan runtuhan bangunan beratus tingkat menerpaku.

*****
Hari itu, kuliah perdana yang membosankan di semester genap, tak banyak teman sekelasku yang datang. Bahkan, teman seangkatanku yang datang hari itu seadanya saja. Dosen yang berkewajiban memberikan kuliah juga ikut-ikutan bolos seakan telah membangun komitmen dengan mereka yang juga tidak masuk kuliah. Pukul sembilan pagi tepat, tapi masih saja jumlah mahasiswa tidak bertambah, justru sebaliknya, pelan tapi pasti, kampus mulai kosong melompong.

Seperti biasanya, aku dan teman-teman ngumpul di bawah pohon beringin  yang rindang dan sangat besar itu sambil diskusi. Tempat itu memang ideal untuk istirahat, belajar atau asal ngumpul saja, disamping sudah tersedia bangku dari susunan bata yang disemen, juga terdapat kantin yang menjajankan kebutuhan mahasiswa di kampus itu.
Tak jauh dari tempat kami ngumpul, ada sepohon lagi yang ukurannya tidak jauh beda dengan pohon yang menaungi kami. Ditempati oleh beberapa orang yang sudah tidak asing lagi di mataku, hanya saja, mereka saling membisu. Sibuk dengan buku dikte mereka masing-masing.
 “Mereka teman-teman sekelasnya Egi kan Ukhi’”
           
Tanya Surya diiringi lirikan kearah Evi, Ikha, Anggel, dan Elzy ditambah teman-teman sekelasnya yang lain.
“Iya, mang kenapa you nanya itu ke I?”
“Kamu ga mau kesana, kale aja kamu bisa mendapatkan salah satu dari bidadari-bidadari itu” Sambung Toni seraya memalingkan wajah kearah Surya seakan mengejek keadaannya yang memang menjomblo, bahkan aku jadi benar-benar merasa dilempari bata dengan kalimat itu, entah apa respont Surya.
“Dasar,, tikus tanah” balasku dan meninggalkan mereka menuju tempat para dara itu mangkal.
“Bukankah tadi yang pake baju pink dan rok jeans biru itu Egi?” usahaku mengingat kembali dengan kerutan dahi. Langkahku tak tertahan hingga aku benar-benar berada di depan mereka.
“Vi, ko’ Egi ga ngumpul bareng kalian, dia ga kuliah hari ini? Tanyaku
“Tadi sih ada, tapi pergi lagi tau kemana! Balas Evi dengan nada agak kesal.

Aneh, benar-benar aneh, tak biasanya mereka tampak kesal seperti ini kalau aku menanyakan tentang Egi dan tak biasanya dia meninggalkan teman-temannya tanpa sepengetahuan  mereka kemana dia akan pergi. Apalagi Evi, teman sekamar kosannya yang juga punya paras cantik, pintar, tapi sangat beda dengan Egi, dia salah seorang dari orang yang paling selektif dalam berteman.
“Kalo dia datang suruh temui aku di kantin Mbak Nur ya?”

Pintaku sambil berlalu  meninggalkan mereka dan bergabung kembali keteman-temanku yang lainnya. Tak pernah lepas dalam ingatanku kenapa Egi harus pergi tanpa sepengetahuan sahabatnya sendiri. Kebisuanku buyar seketika tak kala Yudha menanyakan perihal bencana apa yang menimpaku sehingga tampak tak bersemangat.
“Tadi I nanya tentang Egi keteman-temannya tapi mereka ga tau kemana rimbanya”
“lho! Ko’ cuman nanya ke mereka? Ga mau coba Tanya ma kita-kita ini?
“mang apa peduli kalian dengan hal ini?”

Balasku sedikit jengkel. Maklum, mereka orang yang tergolong tak pernah mau ambil tahu tentang orang lain, mereka hanya bisa memikirkan diri mereka sendiri. Kalaupun mereka pikirkan, itu hanyalah pikiran picik sang iblis yang bersarang dalam jiwa dan bersembunyi di balik raga tampan mereka.
“kamu jangan berpikiran negative gitu dong Ukhi! Gini-gini kami juga perhatian dengan teman-teman kami sendiri. Yah, walaupun dimata kalian kami ini orang yang paling jail dan menjelngkelkan, tapi kami juga punya hati ko’” cepis Yudha, hingga membuat wajahku merah bak buah cabe yang siap panen, saking malunya aku kepada mereka yang bisa menerka alur pikiranku ini.
“Mungkin dia lagi pergi ma Ningsih dkk, soalnya tadi aku liat mereka jalan bareng. Kalo ga’ salah, anak yang sok keren itu juga ikut!”
Sambung Juanda yang akrab kami sapa Junto sejak SMA. Entah dari mana datangnya julukan itu, tapi yang pasti dia salah satu anggota Geng Anarki alias Anak Kreatif Kaya Inspirasi” . Kelompok yang membesarkan nama sekolah kami dulu, yahh, walaupun hanya segelintir dari kami.

Aku hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Kedengarannya seru, tapi aku tidak tertarik sama sekali untuk menanggapinya apalagi sanggahan yang sering kali aku luncurkan tak kala itu tidak sesuai dengan jalan pikiranku. Aku bagai tak ditempat itu, pikiranku berjalan menyusuri setiap kelok jalan yang sering dilalui Elvin dan teman-temannya.

“Mudah-mudahan apa yang dikatakan Yudha itu ga benar, tapi kalaupun benar, mudah-mudahan sesuatu yang buruk tidak menimpanya.”  Gumamku dalam hati seraya menuju kantin Mbak Nur yang tidak jauh dari lokasi kami ngumpul.
“Wey, pa kalian ga lapar?” sorakku memanggil teman-teman Anarki. Team yang mendewasakanku itu.
           
Belum lagi cukup sesuap mie pangsit masuk kedalam tenggorokanku, dari kejauhan muncul sosok yang tak asing bagiku, didampingi teman-teman barunya, gaya punk ala Rolling Stones. Mereka terlihat sangat akrab, seringkali tawa lebar menghiasi pembicaraan mereka.
“Egi, bisa bicara sebentar ga?” pintaku dengan suara agak keras agar bisa terdengar olehnya sejelas mungkin. Spontan saja dia langsung berhenti, menatap teman barunya yang terus saja berlalu tanpa menghiraukan teriakanku. Suatu kewajaran kan kalau mereka tidak berhenti, toh mereka mang tidak suka dengan kami sebagaimana kami juga tidak menyukai mereka.
“Jaga jarak ma mereka Gi!”
“Kenapa? Mereka baik ko’ma aku!”
“Baik karena ada maunya, lagian you masih muda, masih hijau and sangat mudah terpengaruh”
“Jangan vonis mereka begitu dong”
           
Pembicaraan yang ulet dan panjang serta butuh tenaga besar  menjelaskannya kepada Egi agar bisa mengerti dan kalau bisa dilaksanakan.
“Ini bukan demi kebaikanku Gi, tapi untuk you, masa depan you, tapi kalo you mang ga mau tu terserah you ko’”
tutupku dengan wajah kesal, pembicaraan kami selesai dan tak pernah ketemu lagi.

*****
            Tanpa sadar setetes air bening hangat menetes menyusuri kelok anak sungai di wajahku, seakan ikut larut dengan keadaan yang menimpa Egi, mataku buram, hidung agak tersumbat dan tenggorokan seakan mengering.
“Mereka sudah tau” tanyaku dengan suara parau berharap Ia mau menjawabnya
           
Tak banyak yang aku tanyakan, tak banyak pula yang aku harapkan, selama menanti jawaban, hanya sebuah kepastian. Pikiranku terus melayang, menerka-nerka, menebak kemungkinan siapa yang menjadi biang kerok dari semua ini.
           
Waktu terus berlalu hingga Mentari mengabari kalo senja segera menyongsong, menutupi hari siang dan berganti menjadi malam, tapi suasana tak berubah. Hanya kebisuan, keheningan, dan kesedihan yang terus berlarut-larut hingga kami beranjak pulang.



“Kalaulah Diam Itu Sebuah Jawaban, Apalah Arti Sebuah Penjelasan.
Kalaulah Perilaku Itu Sebuah Cerminan, Apalah Arti Sebuah Pemaparan.
Kalaulah Lirikan Itu Sebuah Panggilan, Apalah Arti Sebuah Lambaian”.

Muhammad Syukri

1 comment: